Rakyat dan Politisi Saling Tebar Janji, Yang Tak Jadi Going Crazy, Yang Jadi Ayo Kita Pesta Lagi

INDONESIASATU.CO.ID:

POLITIK - Pesta demokrasi terbesar, perhelatan 5 tahunan sekali sebentar lagi datang menghampiri, menghadirkan banyak cerita lucu, haru, mendebarkan, dan penuh pengharapan.

Lucu karena banyak yang mendadak caleg, yang tadinya tiap hari cuma bicara harga ikan, beras, dan harga cabe di pasar secara mendadak berubah topik menjadi politik. Tadinya cuek bebek tiba-tiba mendadak militan mendukung salah satu partai.

Haru dan mengharukan sekali, buat beli beras susah sekali duit keluar, pas mau beli baliho dan banner kampanye bela-belain utang-utangan kiri-kanan, depan-belakang, hajar duit orang sana-sini, asal eksis di pohon-pohon, di tiang listrik, dan dimana saja asal bisa tempel-tempelan, dan gantung-gantungan.

Mendebarkan dan penuh pengharapan. Rasa-rasanya semua suara sudah dikunci untuk memilih, berbagai cara sudah dilakukan, mulai dari tebar janji, sampai tebar money, mulai dari sanak saudara sampai saudara sanak, semua sudah dikaosi, dijaketi, dan tak lupa juga diamplopi. Semua syariat sudah dijalankan, sampai semua warga dijadikan saksi, dicatat, dan disanguhi, tinggal menunggu hari, 17 April 2019, berdebar, berharap, saya harus jadi, kalau ndak boleh memakai kata pasti.

Dikasih janji warga mengangguk, kasih jempol, bapak/ibu emang oke, dikasih duit warga senyum menyalami, bapak/ibuk memang woke (dalam hati emang toke), kami akan pilih bapak/ibu 9 April nanti. Si caleg senang, happy, muka berseri, dalam hati semua suara yang dibutuhkan sudah “dikunci” semua pasti milih ane, yakin 99% dan 1 % buat Tuhan, supaya tidak kelihatan takabur, tapi harapan semangkin besar, dan mengakar, “sudah di bibir tepi cawan,” kemenangan sudah di depan mata, bayangan jadi pejabat sudah semangkin dekat, panggilan anggota dewan terhormat sudah semangkin jelas terngiang, “Wakil Rakyat, Pejabat.”

17 April pun datang, TPS-TPS didatangi warga, termasuk suara warga yang sudah dikunci, janji warga”Saya AKAN pilih, bapak/ibu,” terdengar pasti, walaupun kata AKAN tidak sama dengan kata PASTI. Saya AKAN pilih bapak/ibu adalah janji, janji yang belum pasti, masih rencana yang belum terealisasi, saya AKAN pilih kalau bapak/ibu paling tinggi kasih sebenarnya itu yang tersirat dalam hati.

Si Caleg apes punya strategi, si Caleg mantep pun tak kalah ngeri, sudah berpengalaman, tahu momen dan tahu medan, tahu bangat saat yang tepat, kapan tebar janji, dan kapan tebar money. Pasukan disiapkan, amunisi diisi full, strategi lawan sudah kebaca, harga mereka pun sudah terlihat nyata, mereka pengusaha, biasa dengan kata apa itu “biding”, “tender,” “Lelang”, bahwa penawar tertinggilah yang akan menang, dan yang menerima suap paling banyaklah yang akan bahagia, kami senang Anda menang, menit-menit terakhir sangat menentukan, karena itu adalah harga suara paling tinggi yang bisa dinikmati, dan suara pun segera beralih, yang mendadak caleh dapat janji, Ambo dapek pitih, yang ngasih besar dapat kursi, yang kalah silahkan GILA, emangnya gue pikirin, ntar ente jadi anggotan dewan emangnya masih ingat kawan, kadang hak kami pun ente makan.

Pemilihan usai, suara dihitung, satu per satu dibacakan, kok namanya dia gak muncul-muncul, ragu mulai datang, perasaan dikhianati mulai datang,  bimbang mengiringi, pusing mulai meradang, kepala panas, hati panas, lidah terasah keluh mau nyumpahin yang sudah dikasih uang pun sudah terucap walaupun cuma dalam hati, karena penderitaan ini baru satu hari, hari kedua, dan hari selanjutnya, sudah mulai senyum sendiri, mulai pidato sendiri, berhalusinasi, ketawa sendiri, galak urang galak awak, nan digalakan urang awak, alah bocoh aluih we'eh kironyo…., kacian deh loe….

Selamat buat yang menang, baik menang baik, maupun yang baik menang, semoga amanah, jebakan ‘badman” menunggu Anda, kalau Anda lupa apa yang sudah dikata…:)

Rakyat dan Politisi Saling Tebar Janji, Yang Tak Jadi Going Crazy, Yang Jadi ayo Kita Pesta Lagi (Hendri)

  • Whatsapp

Index Berita