Politik Tiang Bendera.... Strategiku

INDONESIASATU.CO.ID:

POLITIK - “Kalau aku terjun ke dunia politik nanti, aku akan pakai politik tiang bendera…tapi jangan bilang siapa-siapa…ini rahasia kita aja, jangan sampai bocor loh, nanti ide kita dipakai orang.” kataku pada teman baikku. Apa maksudnya Boy, Politik Tiang Bendera itu…?

“Gini loh, aku kan mau jadi bupati, kalau mau jadi anggota DPR ndak bisa fren, karena bupati yang punya budget, kalau anggota DPR nggak punya budget, jadi ini hanya cocok buat calon bupati saja.”

Maksudnya?” temanku tak sabaran. Temanku yang satu ini adalah fan ku yang paling fanatik, pokoknya dia akan pasang badan kalau aku punya masalah apapun, bahkan dia sudah masukin lamaran untuk jadi tim suksesku kalau aku jadi calon bupati.

“Nanti pada saat kita kampanye…aku tak akan tebar foto, gambar, atau baleho fren, tak mau aku buang duit untuk itu, mahal sekalai fren, susah balik modalnya, kecuali korupsi nantinya,…. aku cukup panggil semua Ketua Pemuda, Kepala Desa, Camat, ke Bank, aku kasih lihat tu duit aku yang sudah dimasukin dalam peti. Kalau aku punya duit 10 Milyar, kan lumayan banyak kalau dimasukin dalam 10 peti. Aku kasih pegang tu orang, duit-duit yang ada dalam peti tu. Trus kalau mereka dah pegang, aku bilang sama mereka, kalau duit tu semua untuk mereka kalau aku nanti terpilih jadi bupati.”

Dengan tidak sabar, temanku nyelah, “Bahaya loh Boy, nanti kamu bisa ketangkap loh, bisa-bisa kamu dituduh politik uang. Itu kan ndak boleh Boy..,”
“Tenang-tenang Fren,” kataku. “Bagi-bagi duit tuh akan aku ubah dengan janji akan bangun lapangan Futsal setiap kecamatan senilai 1 Milyar, kan sekarang lagi demen-demennya main futsal, jadi momennya tepat sekali fren.”

‘Oh gitu toh, tapi kok duitnya cuma 10 Milyar Boy, kecamatan di kabupaten kita kan ada 18.” sambarnya.
“Gini fren, ini enaknya kita hidup di negara demokrasi, untuk menang itu kita tak perlu menang 100%, kita cukup menang 50% plus 1 suara, berarti kita sudah sah jadi pemenang pemilu.”

“Trus yang 8 kecamatan lagi mau kamu apain Boy?”…
“Yang 8 kecamatan lain yang bukan basis pemilih kita, pada hari terakhir menjelang pencoblosan, kita kasih musik dangdut aja semalam suntuk, kita ajak artis ibu kota. Kita suruh mereka tu bergoyang sampai pagi, biar capek.” jelas ku.

“Boy…Aku jadi tambah bingung jalan pikiranmu ini. 10 kecamatan  masing-masing kamu janjiin 1 Milliyar, 8 kecamatan kamu kasih dandut semalam suntuk. Maksudmu sebenanya gimana sih boy?
“Gini fren, politik ini seperti kita ngatur strategi di medan perang, lawan kita kasih mabuk dulu baru kita serang.”
“Artinya?”
“Kalau warga 8 kecamatan itu goyang dangdut semalam suntuk, mereka siangnya kan capek dan ngantuk, jadi mereka tuh malas ke TPS untuk nyoblos calon bupati mereka, sementara 10 kecamatan basis kita, kita  kasih ceramah agama dan suruh mereka cepat pulang untuk persiapan pencoblosan esok hari.”
“Dalam hitungan statistik, kalau lawan politik kita yang nyoblos dia sedikit atau turun, maka angka persentase kita akan naik, jadi kita diuntungkan 2 kali. Pemilih kita datang semua untuk mencoblos, sementara orang yang tidak pilih kita, gak datang untuk nyoblos calon bupati mereka, jadi sudah pasti menang karena persentase kita jauh lebih tinggi dari lawan kita, begitu Fren.”

“Tapi Boy, kamu jangan lupa sama janjinya mau bangun lapangan Futsal di setiap kecamatan loh.”
“Aman tu Fren, aku akan tetap bangun tu lapangan Futsal, tapi bukan pake duitku yang 10 Miliyar tu.”

“Trus kamu pakai duit siapa Boy?”
“Kalau menang pemilu, aku kan jadi Bupati, aku kan punya APBD dan APBN, pakai duit negara aja Fren, masak untuk membangun negara aku harus pakai duit pribadi, kalau bangun negara pakai duit pribadi aku tak perlu repot-repot jadi Bupati fren, langsung aja aku bangun dengan duit yang 10 Miliyar itu, kan gak repot fren.”

“Pintar juga kamu Boy, jadi… kamu jadi bupati tuh, tanpa keluar duit seperser pun, kamu cukup janji-janji aja, Kalau kamu naik, makanya duitnya turun, karena ndak mungkin naik dua-duanya, kamu naik, duit turun, kamu naik duit turun…ha ha ha ha ha ha.”
“Itu baru temanku, cepat nyambungnya, gitu…, jadi gimana…jadi bupati kita…?

“Tapi ingat loh, jangan bilang siapa-siapa tentang strategi kita ini….Ok. (Hendri)

  • Whatsapp

Index Berita